Potret RiauIndragiri Hilir

Dukung Karakter Sejak Usia Dini, Bunda PAUD Inhil Apresiasi Workshop Tari Tradisional Melayu

13
×

Dukung Karakter Sejak Usia Dini, Bunda PAUD Inhil Apresiasi Workshop Tari Tradisional Melayu

Sebarkan artikel ini
Bunda PAUD Kabupaten Indragiri Hilir, Katerina Susanti Herman, mengapresiasi pelaksanaan Workshop Tari Tradisional Melayu bagi tenaga pendidik PAUD se-Kabupaten Indragiri Hilir yang digelar dalam rangka HUT IGTKI-PGRI ke-76 Tahun 2026 di TK Negeri Pembina, Jalan Keritang, Tembilahan, Sabtu (16/05/2026).F-Istimewa

TEMBILAHAN – Guna memperkokoh fondasi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal sejak usia dini, Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI-PGRI) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menggelar terobosan kreatif. Langkah ini diwujudkan melalui pelaksanaan Workshop Tari Tradisional Melayu yang ditujukan bagi ratusan tenaga pendidik PAUD se-Kabupaten Inhil.

Agenda yang disejalankan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) IGTKI-PGRI ke-76 Tahun 2026 tersebut dipusatkan di Gedung TK Negeri Pembina, Jalan Keritang, Tembilahan, Sabtu (16/5/2026).

Kegiatan strategis ini mendapat apresiasi tinggi dan dikawal langsung oleh Bunda PAUD Kabupaten Inhil, Katerina Susanti Herman. Untuk mendongkrak kualitas estetika para guru, panitia menghadirkan narasumber berkompeten di bidang seni, yakni Muhammad Rizki Nur Asri, yang merupakan penyandang gelar prestisius Putra Kebudayaan Indonesia Tahun 2024.

Pentingnya Sentuhan Budaya di Masa Golden Age

Dalam arahannya, Bunda PAUD Inhil, Katerina Susanti Herman, memaparkan bahwa fase anak usia dini merupakan periode krusial atau masa keemasan (golden age) yang menjadi penentu tumbuh kembang dan pembentukan kepribadian anak di masa depan.

Menurutnya, penanaman nilai-nilai moral, karakter, dan cinta tanah air sangat ideal diintervensi melalui media seni yang fleksibel, salah satunya lewat gerakan ritmis tari tradisional Melayu.

“Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselenggaranya workshop tari tradisional ini. Anak usia dini berada pada masa keemasan dalam menangkap stimulus nilai kehidupan. Melalui media tari Melayu, anak-anak tidak sekadar diajak mengenal identitas budaya daerahnya, tetapi secara biologis juga merangsang kemampuan motorik kasar serta menggali potensi bibit unggul sesuai bakat alamiah mereka,” ungkap Katerina.

Melestarikan Khazanah Melayu di Era Digital

Workshop ini dirancang secara khusus untuk meningkatkan kompetensi pedagogical, metodologi pengajaran, serta daya kreativitas para guru PAUD. Dengan menguasai teknik dasar tari, para pendidik diharapkan mampu meramu formula pembelajaran di dalam kelas yang jauh lebih interaktif, edukatif, dan tidak monoton.

Lebih dari itu, Katerina Susanti Herman menitipkan harapan besar agar ilmu yang diserap dari workshop ini dapat ditransfer dengan baik kepada anak didik. Langkah ini dinilai sebagai strategi jangka panjang dalam merawat dan membentengi kelestarian khazanah kebudayaan Melayu agar tidak tergerus oleh derasnya arus modernisasi dan digitalisasi di tengah generasi muda.