Potret RiauIndragiri Hulu

Ribuan Sawit Petani Sungai Raya Dicabut Paksa, Konflik Lahan Memanas dan Bentrok Mengancam

28
×

Ribuan Sawit Petani Sungai Raya Dicabut Paksa, Konflik Lahan Memanas dan Bentrok Mengancam

Sebarkan artikel ini
Ketegangan terjadi antara petani masyarakat Desa Sungai Raya dengan pihak pengaman PT SBP dipicu sejumlah alat berat perusahaan beroperasi memasuki wilayah Desa Sungai Raya.F-Manroe/Potret24. com

RENGAT – Konflik lahan antara masyarakat dengan pihak perusahaan kembali memicu ketegangan di Desa Sungai Raya, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau. Ribuan batang kelapa sawit milik petani dilaporkan dicabut paksa menggunakan alat berat pada Sabtu (9/5/2025), sehingga memicu kemarahan petani dan meningkatkan potensi bentrok terbuka di lapangan.

Aksi pembongkaran kebun tersebut disebut dilakukan oleh sejumlah alat berat yang diduga berkaitan dengan Supri Handayani alias Ando. Ia dituding bertindak atas kepentingan PT Sinar Belilas Perkasa (PT SBP) dalam aktivitas pembukaan lahan di wilayah yang diklaim sebagai kebun masyarakat.

Dari total tujuh unit alat berat yang masuk ke lokasi, sayangnya Ando membantah tidak terlibat atas alat PT SBP yang beroperasi di lokasi tersebut. Ia menyebut bahwa alat yang di bawah kendalinya justru beroperasi di lahan plasma masyarakat Desa Payarumbai, Kecamatan Seberida.

Situasi di lapangan disebut sangat mencekam. Selain alat berat, puluhan orang yang diduga sebagai tenaga keamanan bayaran perusahaan turut melakukan pengawalan. Mereka disebut membawa senjata tajam saat aktivitas pembongkaran berlangsung.

Sejumlah nama bahkan disebut petani berada di lokasi pengamanan, di antaranya Suprianto alias Wanto yang diketahui berasal dari Sekip Payung serta Edi Anto, warga Sungai Raya.

Kehadiran alat berat PT SBP dan kelompok pengawal tersebut memicu kemarahan petani. Informasi yang berkembang di masyarakat menyebutkan ribuan petani berencana melakukan aksi besar pada Minggu (10/5/2025), guna mempertahankan kebun dan lahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.

Tampak sejumlah alat berat PT SBP beroperasi memasuki wilayah Desa Sungai Raya.F-Manroe/Potret24. com

Samsir alias Kucil, petani asal Sungai Raya, mengecam keras tindakan perusakan kebun masyarakat yang dinilai dilakukan secara sepihak.

“Kami akan melaporkan pengrusakan ini ke Polres Inhu. Selain itu, kami tetap mempertahankan lahan kami dan menuntut ganti rugi atas tanaman yang dirusak,” tegasnya.

Di sisi lain, Supri Handayani yang disebut-sebut terlibat memasukkan alat berat ke lokasi kebun petani ketika dikonfirmasi wartawan membantah tudingan tersebut. Ando menegaskan tidak pernah mengerahkan tujuh unit alat berat ke Sungai Raya.

“Saya hanya masukan tiga unit alat berat dan itu bekerja di lahan plasma PT SBP di wilayah Desa Paya Rumbai,” ujar Ando saat dikonfirmasi.

Pria yang juga merupakan warga Sekip Hilir itu mengaku tidak mengetahui adanya konflik di Sungai Raya yang dikaitkan dengan aktivitas alat berat miliknya.

“Alat berat saya baru dimasukkan ke lahan plasma, dan tidak ada kabar keributan,” katanya singkat.

Terkait sejumlah alat berat PT SBP yang dituding petani beroperasi di Desa Sungai Raya, Potret24.com mencoba mengkonfirmasi kepada pihak perusahaan melalui saudara Sutejo, selaku Asisten Kepala (Askep) PT SBP. Ditelpon via WhatsApp (0822 8444 21××), namun sayang belum berhasil.

Hingga berita ini diterbitkan, kondisi pada lahan masyarakat petani di Sungai Raya masih diliputi ketegangan. Mereka berharap aparat kepolisian dan pemerintah daerah segera turun tangan untuk meredam situasi sebelum konflik lahan tersebut berubah menjadi tragedi berdarah di Kabupaten Inhu. (Tim)