Potret RiauPekanbaru

P2SP SMAN 13 Pekanbaru Klarifikasi Proyek Revitalisasi Rp1,3 Miliar

41
×

P2SP SMAN 13 Pekanbaru Klarifikasi Proyek Revitalisasi Rp1,3 Miliar

Sebarkan artikel ini
Kepala SMAN 13 Pekanbaru, Yetri Aziza, S.Pd., M.Pd.F-Istimewa

PEKANBARU – Pihak SMAN 13 Pekanbaru memberikan klarifikasi terkait perkembangan proyek revitalisasi sekolah senilai Rp1,3 miliar yang sebelumnya diberitakan mengalami keterlambatan menjelang batas waktu pengerjaan.

Kepala SMAN 13 Pekanbaru, Yetri Aziza, S.Pd., M.Pd., melalui Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP), Rahmat Roihan, menjelaskan bahwa kendala utama saat ini berkaitan dengan proses administrasi pencairan dana tahap kedua.

Rahmat menyampaikan, pengajuan dana revitalisasi telah dilakukan pada 2025, sementara realisasi program berlangsung pada Agustus 2026. Pekerjaan tahap pertama, menurut dia, mulai dilaksanakan pada akhir Juli hingga awal November 2026.

“Untuk dana revitalisasi tahun ini sudah kita ajukan di tahun 2025. Realisasinya pada bulan Agustus. Kita mulai pekerjaan di akhir bulan Juli 2026 sampai awal November untuk tahap pertama,” ujar Rahmat kepada Potret24.com, Selasa (3/11/2026).

Ia menyebut progres pekerjaan tahap pertama telah mencapai sekitar 50 persen. Namun, pencairan dana tahap kedua sebesar 30 persen dari total anggaran masih menunggu penyelesaian administrasi.

Berdasarkan hasil rapat daring pada pekan sebelumnya, proses administrasi tersebut disebut akan dipercepat. Rahmat menjelaskan, fasilitator dari Fakultas Universitas Riau (UNRI), Riski Ridho, yang sebelumnya membantu proses pekerjaan dan verifikasi, akan melanjutkan tahapan pengajuan kepada Direktorat untuk pencairan dana berikutnya.

“Hasil zoom meeting minggu kemarin, segera mungkin akan dipercepat proses administrasinya. Fasilitator yang membantu kita dari Fakultas UNRI, Riski Ridho, yang sudah mengerjakan dan membantu 50 persen itu lah yang akan dilanjutkan ke Direktorat untuk pencairan 30 persen lagi,” jelasnya.

Rahmat tidak menampik bahwa belum cairnya dana tahap kedua berdampak terhadap pembayaran kebutuhan proyek. Untuk menjaga pekerjaan tetap berjalan dan mengejar target penyelesaian, pihak P2SP mengaku telah menjalin kerja sama dengan toko bangunan serta memiliki kewajiban pembayaran kepada tukang dan rekanan.

“Memang sebelumnya kita sudah lakukan kerjasama ke toko bangunan agar tetap bisa mengambil bahan untuk mengejar deadline ketika dana turun,” ungkapnya.

Ia memperkirakan dana yang telah melalui proses verifikasi fasilitator dapat dicairkan dalam waktu sekitar dua pekan ke depan. Rahmat juga menyebut kondisi serupa tidak hanya dialami SMAN 13 Pekanbaru, karena terdapat sekolah lain yang masih menunggu proses pencairan.

“Ada beberapa sekolah yang sudah terverifikasi langsung dimasukkan ke aplikasi Simaspras dan sudah ada pencairan. Nah kita sekarang masih menunggu saja,” katanya.

Mengenai adanya imbauan penggunaan dana talangan atau dana taktis agar penyampaian laporan kepada Direktorat tidak melewati Desember, Rahmat mengatakan pihaknya belum mampu memenuhi hal tersebut karena keterbatasan dana.

“Memang ada himbauan untuk diarahkan ke dana taktis sembari dana turun. Tapi kita tidak punya dana untuk mengikuti himbauan itu. Namun kita selalu upayakan agar pekerjaan tetap lanjut dengan kerjasama dari rekanan kita,” tegasnya.

Ia menjelaskan proses pencairan dana revitalisasi dilakukan secara berjenjang. Tahapannya melibatkan perencana, pengawas, fasilitator, hingga koordinator di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Riau. Setelah melalui tahapan tersebut, laporan diteruskan ke Direktorat.

Menurut Rahmat, proses pekerjaan administrasi saat ini telah berjalan pada pekan tersebut. Pihak sekolah tinggal menunggu pencairan dana untuk memenuhi pembayaran kepada rekanan, pekerja, dan toko bangunan. Ia juga menyebut Dinas Pendidikan tetap mengetahui perkembangan pekerjaan tersebut.

“Pekerjaan sekarang ini sudah diproses minggu ini. Kita hanya menunggu dana cair untuk pembayaran rekanan, tukang dan toko bangunan. Dinas Pendidikan tetap mengetahui,” tambahnya.

Dalam klarifikasinya, Rahmat turut menjelaskan alasan sejumlah bagian piri-piri atau sekat yang tidak diganti dalam pekerjaan revitalisasi. Menurutnya, keputusan tersebut didasarkan pada kondisi material lama yang dinilai masih layak digunakan dan masih dapat difungsikan setelah dilakukan pengecatan ulang.

“Kenapa tidak diganti piri-pirinya, kami pandang merujuk dengan rehab ini kan mengembalikan kepada fungsinya, masih kondisi bagus. Hanya kita cat ulang. Kalau kita bandingkan dengan yang baru hanya triplek, sementara yang lama ini dari papan dan masih layak,” jelasnya.

Rahmat berharap pencairan dana tahap kedua dapat segera terealisasi sehingga pekerjaan revitalisasi bisa dilanjutkan dan para siswa dapat kembali menggunakan ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajar.

“Harapan saya sebagai Ketua P2SP, berharap segera pencairan tahap kedua agar anak-anak kembali ke kelasnya sehingga proses belajar mengajar tetap berlanjut,” tutupnya.