JAKARTA – Seorang wanita paruh baya duduk di kursi kayu area parkir sebuah klinik di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Tangannya memegangi pinggang kiri. Wajahnya berkerut setiap kali mencoba mengubah posisi.
Saya mendekat. Ia membalas dengan senyum tipis yang berubah jadi meringis.
“Sudah tiga bulan. Awalnya cuma pegal, sekarang susah tidur,” katanya. Rina, 52 tahun, ibu tiga anak. Ia sudah ke empat dokter sebelumnya. Masing-masing memberi resep berbeda. Tak ada yang tuntas. “Ada yang bilang saraf kejepit, ada yang bilang asam urat. Saya bingung.”
Cerita Rina bukanlah kasus yang terisolasi. Selama dua pekan meliput layanan manajemen nyeri di Jakarta, tim redaksi Potret24.com menemukan pola yang sama. Pasien berpindah dari satu spesialis ke spesialis lain, menghabiskan waktu dan biaya, tanpa mendapat jawaban yang memuaskan.
Fenomena Nyeri di Jakarta
Angka penderita nyeri kronis di Indonesia cukup signifikan. Data Riskesdas 2023 mencatat lebih dari 30 persen penduduk dewasa Indonesia mengalami nyeri yang berlangsung lebih dari tiga bulan. Di Jakarta, angkanya diperkirakan lebih tinggi.
Yang menarik, sebagian besar penderita tidak segera mencari pertolongan medis. Perhimpunan Dokter Spesialis Nyeri Indonesia mencatat bahwa 6 dari 10 penderita baru datang setelah nyeri berlangsung lebih dari enam bulan. Artinya, ada jeda panjang antara munculnya gejala dan keputusan untuk berobat.
Fenomena ini tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang cenderung menyepelekan nyeri. Banyak yang menganggap sakit pinggang, pegal otot, atau nyeri sendi sebagai bagian wajar dari penuaan atau kelelahan. Akibatnya, mereka membiarkan keluhan berlarut-larut atau sekadar mengonsumsi obat bebas tanpa diagnosis yang jelas.
Praktik seperti ini justru bisa memperburuk kondisi. Nyeri yang tidak tertangani dengan tepat berpotensi menjadi kronis, lebih sulit diobati, dan pada akhirnya membutuhkan biaya yang lebih besar.
Perbedaan Klinik Nyeri dengan Poli Biasa
Masalah lain yang muncul di lapangan adalah kebingungan pasien dalam memilih tempat berobat. Banyak yang tidak tahu bahwa ada fasilitas khusus bernama klinik nyeri yang berbeda dari poli saraf atau poli bedah.
Klinik nyeri menggunakan pendekatan multidisiplin. Artinya, pasien ditangani oleh tim yang terdiri dari dokter spesialis anestesi, neurologi, rehabilitasi medik, fisioterapis, hingga psikolog. Pendekatan ini penting karena nyeri tidak berdampak pada fisik semata. Nyeri berkepanjangan juga memengaruhi kualitas tidur, produktivitas, dan kesehatan mental.
Dalam setiap kunjungan awal, pasien menjalani asesmen yang memakan waktu 45 hingga 60 menit. Dokter akan menggali riwayat nyeri, melakukan pemeriksaan fisik, dan jika perlu merujuk pada MRI atau elektromiografi. Baru setelah itu, rencana terapi disusun secara personal.
Metode Penanganan yang Tersedia
Penanganan nyeri tidak selalu berarti obat-obatan. Tergantung diagnosis, dokter dapat merekomendasikan berbagai pendekatan.
Pertama, terapi farmakologi yang ditargetkan pada sumber nyeri. Kedua, prosedur intervensi seperti blok saraf atau injeksi steroid. Ketiga, rehabilitasi fisik berupa latihan penguatan dan peregangan. Keempat, konseling psikologis untuk membantu pasien mengelola nyeri secara mental.
Tidak semua pasien membutuhkan semua jenis terapi. Beberapa cukup dengan fisioterapi dan perubahan gaya hidup. Yang lain membutuhkan kombinasi beberapa pendekatan sekaligus. Inilah mengapa diagnosis yang tepat menjadi langkah paling krusial.
Menimbang Akses dan Biaya
Akses terhadap layanan manajemen nyeri di Jakarta sebenarnya tidak terbatas pada rumah sakit besar. Di sejumlah kecamatan, klinik kecil mulai menyediakan layanan serupa. Kami mengunjungi beberapa di antaranya.
Salah satunya di lantai dasar sebuah ruko di kawasan Menteng. Tiga pasien sudah menunggu. Seorang pria separuh usia dengan kruk duduk di sudut. Seorang perempuan muda memakai penyangga leher sambil menunduk menatap ponsel. Suara pendingin ruangan mendengung pelan. Tak ada yang bicara, tapi ekspresi mereka cukup menggambarkan apa yang mereka rasakan.
Resepsionis bernama Dedi menjelaskan mayoritas pasien adalah pekerja kantoran dengan keluhan sakit punggung bawah, leher kaku, dan nyeri lutut. “Banyak datang setelah libur panjang. Habis duduk berjam-jam di mobil atau pesawat,” katanya.
Kami juga berbincang dengan Siska, seorang fisioterapis di klinik lain. Ia menunjukkan ruang terapi yang dilengkapi alat elektroterapi dan meja traksi. “Kami tidak cuma memberi obat. Pasien diajari gerakan yang bisa dilakukan di rumah. Pemulihan nyeri itu proses, bukan sekali datang langsung sembuh,” ujarnya.
Soal biaya, konsultasi di klinik nyeri bervariasi tergantung fasilitas dan jenis layanan. Beberapa tempat menerima BPJS, sementara yang lain bekerja sama dengan asuransi swasta. Sejumlah klinik menawarkan paket konsultasi awal dengan tarif terjangkau.
Salah satu penyedia layanan yang bisa dijadikan referensi adalah GP+ Medical & Paincare: Klinik Nyeri di Jakarta. Berdasarkan informasi yang kami akses dari laman resminya, klinik ini mengusung pendekatan multidisiplin dengan tim dokter yang berpengalaman di bidang manajemen nyeri. Layanan yang tersedia mencakup konsultasi awal, prosedur intervensi nyeri, rehabilitasi fisik, hingga program terapi lanjutan.
Kapan Harus ke Klinik Nyeri
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber medis, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai. Jika nyeri sudah berlangsung lebih dari tiga bulan, atau jika keluhan tidak membaik setelah pengobatan awal selama dua minggu, sebaiknya segera konsultasi.
Nyeri yang mengganggu tidur, membatasi aktivitas sehari-hari, atau menyebabkan perubahan suasana hati juga merupakan indikasi untuk segera memeriksakan diri. Semakin dini ditangani, semakin besar kemungkinan untuk mencegah nyeri menjadi permanen.
Seorang pasien yang kami temui, Hendra, 45 tahun, mengaku sudah menjalani terapi selama empat bulan. “Awalnya saya ragu karena sudah ke mana-mana tidak sembuh. Tapi perlahan saya paham bahwa nyeri butuh penanganan yang tepat dan sabar. Sekarang jauh lebih baik.” Ia kini bisa kembali berlari ringan, sesuatu yang tidak bisa ia lakukan setahun sebelumnya.
Tanya Jawab Seputar Manajemen Nyeri
Apa perbedaan klinik nyeri dengan poli saraf?
Klinik nyeri memiliki cakupan lebih luas. Poli saraf fokus pada gangguan sistem saraf, sedangkan klinik nyeri menangani nyeri dari berbagai penyebab dengan pendekatan multidisiplin.
Apakah nyeri kronis bisa sembuh total?
Tergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Sebagian besar kasus dapat dikelola dengan baik sehingga pasien bisa kembali beraktivitas normal.
Apakah konsultasi di klinik nyeri mahal?
Biaya bervariasi tergantung fasilitas dan jenis layanan. Beberapa klinik menerima BPJS atau bekerja sama dengan asuransi swasta.
Selama peliputan, satu hal yang paling membekas. Nyeri sering dianggap remeh, bahkan oleh penderitanya sendiri. Banyak yang memilih bertahan.
“Bukan hanya fisik. Saya sempat depresi karena tidak bisa tidur nyenyak berbulan-bulan,” tutur Rina.
Di Jakarta yang bergerak cepat ini, nyeri sering dianggap sebagai risiko yang harus diterima. Tapi dari apa yang kami saksikan, menahan sakit bukanlah satu-satunya pilihan. Ada jalan lain. Datang, berkonsultasi, dan biarkan tenaga profesional membantu.
Jika Anda atau keluarga mengalami keluhan nyeri berkepanjangan, informasi lebih lanjut mengenai layanan konsultasi dan penanganan nyeri secara komprehensif dapat diperoleh melalui GP+ Medical & Paincare. (*fhm)












