SUNGAI SALAK – Di tengah gempuran digitalisasi yang memicu sikap apatis pada generasi muda, RA Khalifa Sungai Salak mengambil langkah preventif dengan menggelar agenda Parenting bertajuk “Refleks Empati: Melatih Kepekaan Sosial Sejak Dini”.
Acara yang diinisiasi oleh wali murid kelas A ini menghadirkan pakar psikologi anak, Siti Mariyanti, S.Psi., CSHt., sebagai narasumber utama pada Sabtu (18/4/2026).
Dalam paparannya, Siti Mariyanti menekankan bahwa empati merupakan fondasi utama bagi anak untuk berinteraksi dan bersosialisasi di tengah masyarakat. Menurutnya, pola asuh di era modern harus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.
Ia menyoroti tantangan besar berupa penggunaan gadget dan media sosial yang sering kali menciptakan komunikasi satu arah, sehingga anak cenderung kehilangan filter emosional dan menjadi kurang peka terhadap lingkungan sekitar.
Kepala RA Khalifa, Ustadzah Icha Maisyarah, S.Pd.I., menambahkan bahwa pemahaman tentang empati harus dipahami secara mendalam oleh orang tua.
Empati bukan sekadar merasa kasihan saat melihat teman terjatuh, melainkan kemampuan anak untuk merasakan posisi orang lain dan tergerak untuk memberikan bantuan nyata. Hal ini dianggap sebagai bekal krusial agar anak tumbuh menjadi pribadi yang solutif dan peduli.
Sebagai praktisi terapis anak berkebutuhan khusus, Siti Mariyanti juga memberikan tips praktis bagi guru dan orang tua. Ia menyarankan agar orang dewasa bersikap tegas dalam menunjukkan ekspresi emosi—baik itu senang, sedih, maupun marah—agar anak memiliki rujukan yang jelas mengenai respon sosial.
Transparansi emosi ini sangat penting agar anak tidak bingung dalam membedakan tindakan yang benar dan salah dalam keseharian mereka.
Agenda rutin tahunan RA Khalifa ini berlangsung interaktif, diisi dengan sesi ice breaking serta diskusi tanya jawab yang antusias. Program yang dilaksanakan dua kali dalam satu semester ini diharapkan mampu mempererat sinergi antara sekolah dan rumah dalam membentuk karakter anak.
Kesuksesan acara ini bahkan mendapat apresiasi dari narasumber sebagai model kegiatan inspiratif yang layak diadaptasi di lembaga pendidikan dan terapi lainnya.












