PEKANBARU – Fenomena Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Riau saat ini, cukup beragam. Salah satunya adalah terkait dirangkulnya tokoh agama. Mulai dari tim sukses bahkan menjadi kandidat kepala daerah.
Sejauh ini, fenemona ini mendapat reaksi yang cukup beragam dari masyarakat. Ada yang menanggapinya secara positif. Ada pula yang sebaliknya.
Menanggapi fenomena itu, pengamat politik dari Universitas Islam Riau (UIR) Dr Edy Sabli menilai, fenomena itu adalah sesuatu yang biasa.
“Jadi masyarakat tidak usah terpancing ke opini negatif yang mendiskreditkan profesi ustadz. Sebab itu adalah hak individu sebagai warganegara bukan sebagai tokoh agama,” tutur Edy Sabli tulis goriau.com, Kamis (26/9/2024).
Asalkan tokoh agama yang menyalurkan haknya tidak membawa politik identitas, atau dengan perkataan lain mengaitkan agama dengan politik, maka itu juga tak dilarang.
Menurutnya, semua kalangan, profesi mau pun gender memiliki hak yang sama dalam perpolitikan di Indonesia.
“Tidak boleh dideskriditkan, baik itu dengan agama maupun adat,” ujarnya lagi.
Edy menilai, masyarakat Riau saat ini sudah cukup cerdas dalam menyikapi maupun dalam menentukan pilihannya dalam Pilkada Riau 2024. Yang paling penting masyarakat Riau dapat menentukan pilihannya sesuai hati nurani bukan karena serangan fajar, pungkasnya. (***)












