free website hit counter

Sempat Viral Sejarah di Dunia, Dokter Bedah AS Transplantasi Jantung Hewan ke Manusia

Potret24.com – Dalam sebuah tindakan medis yang baru pertama kali terjadi di Dunia, tim Dokter AS mentransplantasikan jantung babi ke pasien, upaya terakhir untuk menyelamatkan jiwanya. Pihak rumah sakit di Maryland hari Senin (10/1/2022) lalu, mengatakan tiga hari setelah operasi yang sangat eksperimental itu, pasien tersebut baik-baik saja.

Tim dokter di University of Maryland Medical Center mengatakan transplantasi itu menunjukkan jantung dari hewan yang telah dimodifikasi secara genetik dapat berfungsi dalam tubuh manusia, tanpa penolakan langsung.

Meskipun masih terlalu dini untuk mengetahui apakah operasi itu benar-benar akan berhasil, tindakan medis itu menandai langkah dalam kerja keras selama puluhan tahun agar suatu hari nanti dapat menggunakan organ hewan untuk transplantasi yang menyelamatkan jiwa.

Dikatakan dari VOA AS dilansir dari VOAIndonesia, pasien David Bennet, yang berusia 57 tahun, mengetahui bahwa, “tidak ada jaminan atas percobaan itu. Namun laki-laki itu berada dalam kondisi sekarang dan tidak memenuhi syarat untuk mendapat transplantasi jantung manusia, dan ia tidak punya pilihan lain,” ujar putranya pada kantor berita Associated Press.

“Pilihannya adalah mati atau melakukan transplantasi ini. Saya ingin hidup. Saya tahu persis ini adalah percobaan tanpa jaminan keberhasilan, tetapi ini adalah pilihan terakhir saya,” kata yang disampaikan Fakultas Kedokteran Universitas Maryland, sehari sebelum operasi itu Bennett.

Kurangnya organ manusia yang disumbangkan untuk transplantasi mendorong para ilmuwan berupaya keras mencari cara untuk menggunakan organ hewan sebagai gantinya.

Menurut United Network for Organ Sharing, yang mengawasi sistem transplantasi organ di Amerika, tahun lalu ada lebih dari 3.800 transplantasi jantung di Amerika, sebuah catatan yang memecahkan rekor.

“Jika transplantasi organ hewan ke manusia ini berhasil, akan ada persediaan organ yang tak akan ada habisnya untuk pasien-pasien yang menderita,” ujar Dr. Muhammad Mohiuddin, direktur ilmiah program transplantasi organ hewan ke manusia di universitas itu.

Namun upaya transplantasi semacam itu sebelumnya – atau xenotransplantasi – telah gagal.

Terutama karena tubuh pasien dengan cepat menolak organ hewan tersebut.

Ini terutama tampak pada tahun 1984, ketika Baby Fae yang sekarat, hidup selama 21 hari dengan hati monyet.

Perbedaannya kali ini adalah pakar bedah Maryland menggunakan jantung babi yang genetiknya telah di-edit untuk menghilangkan gula dalam sel-selnya yang dinilai menyebabkan penolakan organ yang sangat cepat.

“Saya kira kita dapat menggolongkannya sebagai peristiwa yang penting,” ujar Dr. David Klassen, kepala medis UNOS’, tentang transplantasi di Maryland itu.

Meskipun demikian Klassen memperingatkan bahwa ini hanya langkah tentatif pertama untuk mengeksplorasi apakah kali ini xenotransplantasi itu berhasil.

Badan Urusan Pangan dan Obat-Obatan Amerika (FDA), yang mengawasi eksperimen xenotransplantasi, mengijinkan operasi di bawah apa yang disebut sebagai otorisasi darurat “penggunaan penuh kasih” yang diambil ketika pasien dengan kondisi yang mengancam jiwa tidak memiliki pilihan lain.

Para peneliti di New York pada September melakukan percobaan yang menunjukkan bahwa jenis babi ini mungkin menjanjikan untuk transplantasi organ dari hewan ke manusia.

Ketika itu dokter menempelkan – untuk sementara waktu – sebuah ginjal babi ke tubuh manusia yang sudah meninggal, dan melihatnya mulai bekerja.

Dr. Robert Montgomery, yang memimpin eksperimen di NYU Langone Health bulan September lalu, mengatakan, transplantasi di Maryland ini membawa eksperimen mereka ke tingkat berikutnya.

“Ini adalah terobosan yang benar-benar luar biasa,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.

“Sebagai penerima transplantasi jantung, saya sendiri memiliki kelainan jantung genetik, dan saya senang dengan berita ini. Ada harapan bagi keluarga saya dan keluarga pasien lain yang pada akhirnya akan diselamatkan lewat terobosan ini,” Dr. Robert Montgomery.

Lebih jauh Karen Maschke, peneliti di Hastings Center yang membantu mengembangkan rekomendasi etika dan kebijakan untuk uji klinis pertama berdasarkan hibah dari National Institutes of Health NIH mengatakan sangat penting untuk membagikan data-data yang dikumpulkan dari transplantasi ini sebelum membuka opsi bagi lebih banyak pasien.

“(Kami) tidak menyarankan transplantasi organ dari hewan ke manusia secara terburu-buru, tanpa informasi,” ujarnya.

Operasi transplantasi organ jantung babi ke manusia di Maryland itu berlangsung pada Jumat (07/1/2022) lalu, di Rumah Sakit Baltimore.

“Ia (ayahnya) menyadari besarnya terobosan yang dilakukan dan ia benar-benar menyadari pentingnya percobaan ini. Ia dapat saja tidak bertaha, atau bertahan selama satu hari, atau beberapa hari. Maksud saya, saat ini kami benar-benar tidak tahun,” kata David Bennet Jr, putra pasien yang menerima transplantasi itu. (voa-indo/voanews)

Print Friendly, PDF & Email
%d blogger menyukai ini:
Enable Notifications    OK No thanks