Dapat Respon Positif, The Good Lie: Kehidupan Baru Korban Perang Sudan di Amerika - Cerdas - Kritik - Tajam

Dapat Respon Positif, The Good Lie: Kehidupan Baru Korban Perang Sudan di Amerika

Potret24.com, Jakarta – The Good Lie merupakan film karya sutradara Philippe Falardeau yang rilis pada tahun 2014 lalu. Film yang dibintangi Reese Witherspoon ini mendapatkan respon positif dari para kritikus.

Pasalnya, film ini mengadaptasi kisah nyata dari korban perang saudara di Sudan yang menjalani kehidupan baru di Amerika.

Kisah berawal pada tahun 1983 saat terjadi perang saudara antara Sudan Utara dan Sudan Selatan. Perang tersebut menghancurkan banyak desa dan menewaskan banyak orang. Sekelompok anak harus berjalan kaki melewati pejalan kaki untuk mengungsi.

Lalu cerita berfokus pada lima saudara kandung, yaitu Mamere (Arnold Oceng), Paul (Emmanuel Jal), Jeremiah (Ger Duany), Theo (Femi Oguns), dan Abital (Kuoth Wiel). Seluruhnya bersama-sama melewati padang pasir untuk mencapai kamp pengungsian di Kenya.

Hingga suatu ketika saat mereka tidur, Theo terbangun dan melihat dua tentara musuh mendekat, Demi melindungi saudaranya, Theo mengaku bahwa dia sendirian, Kemudian, dia langsung dibawa pergi oleh kedua tentara tersebut.

Pada akhirnya, Mamere dan saudara-saudaranya sampai ke tempat pengungsian di Kenya. Hingga tiga belas tahun kemudian, mereka berempat termasuk orang-orang beruntung yang masuk dalam program bantuan PBB untuk mendapatkan kehidupan baru di Amerika Serikat.

Mamere, Jeremiah, dan Paul mendapatkan tempat di Kansas City, sementara Abital yang seorang perempuan harus berpisah dengan saudara-saudaranya karena keluarga yang bersedia menampungnya berada di Boston.

Di Kansas City, ketiganya dibantu oleh Carrie Davis (Reese Witherspoon), seorang konselor agen pencari pekerjaan. Mereka harus bekerja untuk mengganti biaya keberangkatan kepada pemerintah Amerika Serikat.

Berkat bantuan Carrie, akhirnya mereka mendapatkan pekerjaan. Mamere dan Jeremiah bekerja di toko swalayan, sedangkan Paul bekerja di sebuah pabrik perakitan pipa. Mereka mulai membiasakan diri dengan kehidupan baru di Amerika Serikat.

Namun, kehidupan mereka tidak lengkap tanpa adanya Abital. Pada akhirnya, Mamere memohon kepada Carrie agar mereka dapat dipersatukan kembali dengan saudarinya tersebut.

Lantas, Apa Langkah yang dilakukan Carrie demi mempersatukan keluarga tersebut? Dapatkah Abital kembali bertemu dengan saudara-saudaranya? Jika kamu penasaran, kamu dapat menonton The Good Lie dalam platform-platform streaming.

The Good Lie secara gamblang memperlihatkan irono yang disebabkan oleh peradaban yang semakin maju. Mereka yang hidup di tengah peradaban malah semakin jauh menghargai alam dan kurang peduli terhadap sesama.

Hal ini terlihat saat di toko swalayan, Mamere dan Jeremiah sangat miris melihat adanya makanan untuk anjing dan makanan sisa dibuang begitu saja ke tempat sampah. Padahal ketika di kampung halamannya mereka sangat kesulitan mencari makanan yang layak untuk dimakan.

Selain berfokus pada para imigran, The Good Lie juga menyorot kehidupan pribadi dari Carrie. Pada awalnya, dia merupakan wanita yang hidup seenaknya dan tidak teratur. Namun, sejak dipertemukan dengan ketiga saudara tersebut, Carrie bisa lebih peduli dengan sesama.

Falardeau sebagai sutradara tidak menaruh banyak drama dalam filmnya. Dia sengaja membuat para pemainnya berinteraksi secara natural sehingga setiap adegannya nikmat untuk diikuti. Sub-plot yang ada juga tidak mengganggu dinamika cerita yang membuat film berdurasi 110 menit ini padat dengan cerita utamanya.

Secara keseluruhan, The Good Lie merupakan film yang sangat sayang untuk kamu lewatkan. Banyak pelajaran yang bisa kamu dapat mulai dari sulitnya hidup sebagai korban perang sampai menghadapi culture shock di tempat baru. (dtk)

Print Friendly, PDF & Email
X
English English Indonesian Indonesian Malay Malay
%d blogger menyukai ini:
Enable Notifications    OK No thanks