JAKARTA – Pembangunan berkelanjutan bukan lagi sekadar jargon aktivis lingkungan, melainkan peta jalan global untuk memastikan generasi mendatang tetap bisa menikmati sumber daya Bumi. Di jantung misi ini, terdapat satu elemen krusial yang menjadi penggerak sekaligus penentu sumber energi.
Bagaimana kita memproduksi dan mengonsumsi energi akan menentukan apakah kita sedang membangun masa depan atau justru menghabiskan cadangan masa depan tersebut hari ini.
Apa Itu Pembangunan Berkelanjutan dalam Konteks Energi?
Pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) didefinisikan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang. Dalam sektor energi, ini berarti transisi dari sumber daya fosil yang terbatas (seperti batu bara dan minyak bumi) menuju sumber energi yang bersih, berlimpah, dan rendah emisi.
Energi adalah oksigen bagi pertumbuhan ekonomi. Namun, tantangannya adalah bagaimana menjaga roda ekonomi tetap berputar tanpa meningkatkan jejak karbon secara drastis. Di sinilah peran energi terbarukan menjadi sangat vital.
Tiga Pilar Peran Energi dalam Keberlanjutan
Untuk memahami signifikansi energi, kita perlu melihatnya melalui tiga kacamata utama: ekonomi, lingkungan, dan sosial.
1. Keamanan dan Kemandirian Ekonomi
Ketergantungan pada bahan bakar fosil membuat ekonomi sebuah negara rentan terhadap fluktuasi harga pasar global. Sebaliknya, sumber energi lokal seperti matahari, angin, dan panas bumi memberikan stabilitas. Investasi pada infrastruktur energi terbarukan menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong inovasi teknologi yang kompetitif di pasar internasional.
2. Pelestarian Lingkungan dan Mitigasi Iklim
Sektor energi adalah penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar. Pembangunan berkelanjutan menuntut dekarbonisasi. Dengan mengganti pembangkit listrik konvensional ke energi bersih, kita secara langsung mengurangi polusi udara dan menghambat laju pemanasan global.
3. Akses dan Keadilan Sosial
Salah satu target Sustainable Development Goals (SDG 7) adalah memastikan akses energi yang terjangkau, andal, dan modern bagi semua orang.
Di daerah terpencil, pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala kecil seringkali lebih murah dan cepat dibandingkan menarik kabel transmisi dari pusat kota. Ini membantu meningkatkan taraf hidup, pendidikan, dan kesehatan di pelosok.
Transisi Energi: Tantangan dan Solusi
Transisi menuju energi berkelanjutan tidak terjadi tanpa hambatan. Ada beberapa tantangan nyata yang dihadapi, antara lain:
- Intermitensi: Energi surya dan angin sangat bergantung pada cuaca. Solusinya terletak pada teknologi penyimpanan energi (Battery Energy Storage System) yang semakin efisien.
- Investasi Awal: Biaya pembangunan infrastruktur hijau seringkali dianggap mahal di awal, meskipun jauh lebih hemat dalam jangka panjang secara operasional.
- Kebijakan: Dibutuhkan regulasi yang mendukung, seperti insentif pajak bagi perusahaan yang menerapkan efisiensi energi atau memproduksi energi bersih.
Indonesia sebagai Pemain Kunci
Indonesia memiliki posisi unik dalam peta energi dunia. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang dan terletak di khatulistiwa, potensi energi surya, hidro, dan arus laut kita sangat melimpah. Belum lagi potensi panas bumi (geothermal) kita yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia.
Langkah pemerintah menuju Net Zero Emission pada tahun 2060 adalah komitmen besar. Namun, keterlibatan sektor swasta dan masyarakat dalam mengadopsi teknologi seperti PLTS Atap akan mempercepat pencapaian target tersebut. Pembangunan berkelanjutan bukan hanya tugas negara, tapi merupakan kolaborasi kolektif.
Sumber energi adalah tulang punggung pembangunan berkelanjutan. Tanpa transformasi cara kita mengelola energi, keberlanjutan hanyalah impian. Dengan beralih ke sumber energi yang lebih bersih dan efisien, kita tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh dan masyarakat yang lebih adil.
PGN LNG Indonesia adalah salah satu perusahaan swasta yang berperan dalam menyediakan energi bersih yang menjadi kunci utama dalam mendukung target Net Zero Emission di tanah air demi bisa menciptakan ekosistem energi yang lebih bersih sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Masa depan energi tidak lagi terkubur di dalam tanah, melainkan bersinar di langit dan berhembus di udara. Saatnya kita memanfaatkannya dengan bijak. (*rls)












