PEKANBARU – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Anak Tidak Sekolah (Pantas) Provinsi Riau terus bergerak masif dalam menekan angka putus sekolah di wilayah Bumi Lancang Kuning. Langkah terbaru diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FK-PKBM) tingkat Provinsi dan Kota Pekanbaru, Selasa (13/1/2026).
Penandatanganan kerja sama ini dilakukan langsung oleh Ketua Satgas Pantas Riau, Drs. H. Pahmijan, M.Pd., bersama Ketua DPW FK-PKBM Riau Dafrizal dan Ketua DPD FK-PKBM Pekanbaru Rudi Hendri. Prosesi ini disaksikan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Erisman.
Ketua Satgas Pantas Riau, Pahmijan, menjelaskan bahwa poin utama kerja sama ini adalah membuka pintu selebar-lebarnya bagi anak putus sekolah untuk menempuh pendidikan nonformal melalui program kesetaraan Paket A, B, dan C.
“Kerja sama ini adalah upaya percepatan agar anak-anak di Riau yang terkendala jalur formal tetap bisa mendapatkan ijazah dan ilmu pengetahuan melalui PKBM,” ujar Pahmijan.
Hingga awal tahun 2026, Satgas Pantas mencatat sebanyak 18 anak putus sekolah telah terdata, di mana mayoritas di antaranya memiliki keterbatasan fisik (disabilitas). Salah satu pencapaian terbaru adalah keberhasilan menyalurkan seorang siswa tuna rungu ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Sri Mujinab, Pekanbaru.
“Alhamdulillah, satu siswa penyandang tuna rungu sudah mulai bersekolah kembali di SLB Sri Mujinab. Kami ingin setiap anak, apa pun kondisinya, memiliki kesempatan belajar yang sama demi masa depan mereka,” tambahnya.
Guna memastikan keberlanjutan pendidikan sisa siswa yang belum tersalurkan, Satgas Pantas aktif menjalin komunikasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Riau terkait dukungan pembiayaan. Sejak digagas pada tahun 2022, program Pantas memang mengedepankan sinergi lintas lembaga untuk memperoleh data valid dan dukungan dana.
Tidak hanya mengandalkan administrasi, tim Satgas Pantas juga rutin turun langsung (jemput bola) mendatangi keluarga anak yang putus sekolah. Pendekatan persuasif dilakukan untuk meyakinkan orang tua dan membangkitkan kembali semangat belajar sang anak.
“Pendekatan langsung ke rumah warga sangat krusial. Kami ingin memastikan pemerintah hadir memberikan solusi nyata bagi persoalan pendidikan di Riau, baik di jalur formal maupun nonformal,” pungkas Pahmijan optimistis.






