GEAREK – Kabupaten Nduga seringkali hadir dalam benak publik nasional dengan wajah yang muram; wajah konflik, wajah ketegangan, dan wajah isolasi. Namun, narasi tentang Nduga sesungguhnya tidak boleh berhenti pada letupan senjata semata. Di balik kabut dingin yang menyelimuti Distrik Kenyam hingga Mbua, terbentang salah satu mahakarya Tuhan yang paling agung di muka bumi: ekosistem pegunungan tengah yang menjadi bagian dari Taman Nasional Lorentz.
Nduga adalah benteng alam. Hutan lumutnya yang purba, tebing-tebing karst yang curam, dan sungai-sungai jernih yang membelah lembah adalah aset yang nilainya jauh melampaui emas atau tembaga. Dalam konteks yang penuh tantangan inilah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nduga berdiri. Tugas mereka jauh lebih berat daripada rekan-rekan mereka di Jawa atau Sumatera. Bagi DLH Nduga, menjaga lingkungan bukan sekadar menggugurkan kewajiban birokrasi, melainkan sebuah perjuangan eksistensial untuk menjaga “rumah” bagi masyarakat yang seringkali terpinggirkan.
Redaksi Potret24.com menilai, sudah saatnya kita melihat pembangunan Nduga dari kacamata ekologis. Bahwa perdamaian yang sejati tidak hanya ditandai dengan berhentinya konflik, tetapi juga dengan hadirnya air yang bersih, tanah yang tidak longsor, dan hutan yang tetap memberi nafas.
Menjaga Warisan Dunia di Zona Merah
Fakta bahwa sebagian wilayah Nduga adalah teras dari Taman Nasional Lorentz, Situs Warisan Dunia UNESCO yang seringkali terlupakan. Lorentz adalah paru-paru dunia yang menyimpan biodiversitas dari puncak bersalju hingga hutan hujan tropis. DLH Nduga memikul tanggung jawab moral global untuk memastikan kawasan ini tidak terjamah oleh tangan-tangan jahil yang memanfaatkan situasi keamanan yang fluid.
Tantangan terbesarnya adalah akses. Bagaimana mau mengawasi hutan jika masuk ke wilayah tertentu saja nyawa taruhannya? Di sinilah DLH dituntut memiliki strategi soft approach. Pendekatan keamanan (security approach) terbukti tidak efektif dalam konservasi alam di wilayah konflik. DLH harus merangkul masyarakat adat, para Kepala Suku, dan tokoh gereja.
Konsep konservasi harus diterjemahkan ke dalam bahasa lokal. Bahwa menjaga hutan sama dengan menjaga Mama. Bahwa merusak hutan berarti mengundang murka leluhur. DLH Nduga harus menjadi jembatan yang meyakinkan masyarakat bahwa menjaga Lorentz adalah demi keberlangsungan hidup anak cucu Nduga sendiri, bukan demi kepentingan Jakarta atau UNESCO semata.
Nadi Ekonomi atau Luka Alam?
Pembangunan Jalan Trans-Papua yang melintasi Nduga adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia adalah harapan untuk memutus isolasi yang selama ini membelenggu warga Kenyam dan sekitarnya. Harga barang bisa turun, akses kesehatan bisa lebih cepat. Namun, dalam perspektif lingkungan, jalan raya di pegunungan muda yang labil adalah ancaman serius.
Tanah di Nduga rawan longsor. Pembukaan tebing untuk jalan tanpa kajian lingkungan yang ketat hanya akan menciptakan bencana baru. Kita tidak ingin jalan yang dibangun dengan biaya triliunan rupiah dan tetesan darah itu justru menjadi kuburan massal akibat longsor di masa depan.
DLH Nduga harus berani “cerewet” dalam mengawasi proyek infrastruktur ini. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) jangan hanya jadi dokumen pelengkap administrasi proyek. Drainase jalan, kestabilan lereng, dan dampaknya terhadap jalur migrasi satwa harus diawasi. DLH harus memastikan bahwa pembangunan fisik tidak membunuh ekosistem di sekitarnya. Jangan sampai kita membangun jalan, tapi kehilangan hutan.
Wajah Ibu Kota yang Harus Bersih
Sebagai ibu kota kabupaten, Kenyam adalah etalase Nduga. Meskipun masih kota kecil yang sedang bertumbuh, masalah sampah mulai terlihat. Sampah plastik kemasan makanan instan mulai mewarnai sudut-sudut jalan dan pasar. Jika dibiarkan, ini akan menjadi bom waktu kesehatan.
Tantangan di pegunungan adalah suhu yang dingin dan kelembapan tinggi, yang membuat proses penguraian sampah organik menjadi lebih lambat, sementara membakar sampah plastik (cara konvensional yang buruk) akan menghasilkan dioksin yang meracuni udara lembah yang terperangkap.
DLH Nduga perlu merancang sistem pengelolaan sampah yang sederhana namun efektif. Mungkin belum saatnya bicara tentang TPA Sanitary Landfill yang canggih seperti di kota besar, namun edukasi dasar tentang “Jangan Buang Sampah di Sungai” harus digalakkan. Sungai di Nduga adalah sumber air minum langsung bagi banyak warga. Mengotori sungai sama dengan meracuni saudara sendiri. Program kebersihan kota Kenyam harus menjadi simbol bahwa pemerintahan sipil hadir dan peduli pada kesehatan warganya.
Kesehatan Lingkungan di Tengah Pengungsian
Salah satu realitas pahit di Nduga adalah adanya warga yang mengungsi akibat konflik. Di lokasi pengungsian atau permukiman sementara, sanitasi lingkungan seringkali terabaikan. Ketiadaan MCK yang layak dan air bersih memicu wabah penyakit seperti diare dan ISPA, yang seringkali merenggut nyawa balita.
Di sinilah peran DLH beririsan dengan Dinas Kesehatan. DLH harus proaktif memantau kualitas air baku yang dikonsumsi masyarakat. Lingkungan yang kotor memperparah penderitaan korban konflik. Intervensi lingkungan—seperti penyediaan akses air bersih dan manajemen limbah domestik—adalah bentuk bantuan kemanusiaan yang paling nyata.
Kearifan Lokal sebagai Benteng Terakhir
Masyarakat Nduga memiliki ikatan batin yang kuat dengan tanahnya. Sistem Noken dan filosofi Honai mengajarkan tentang kebersamaan dan menghargai alam. DLH Kabupaten Nduga tidak bisa bekerja dengan gaya birokrat priyayi yang duduk di balik meja. Para pegawai DLH harus turun ke Honai, duduk melingkar bersama warga, dan berbicara dari hati ke hati.
Kearifan lokal harus dijadikan basis kebijakan lingkungan. Jika ada hutan keramat yang dilarang ditebang oleh adat, maka DLH harus memformalkannya dalam aturan pemerintah. Pengakuan terhadap hukum adat dalam menjaga lingkungan akan jauh lebih dipatuhi daripada papan larangan yang dipasang oleh dinas.
Menulis tentang Nduga memang tidak bisa lepas dari bayang-bayang konflik. Namun, Potret24.com percaya bahwa narasi Nduga harus digeser menuju narasi pembangunan yang berkelanjutan dan memanusiakan manusia.
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nduga memegang peran kunci dalam transisi ini. Tugas kalian sungguh mulia: menjaga ciptaan Tuhan di salah satu medan tersulit di Indonesia. Jangan patah semangat meski fasilitas terbatas dan keamanan tak menentu.
Setiap pohon yang kalian selamatkan, setiap liter air sungai yang kalian jaga kejernihannya, adalah nafas bagi anak-anak Nduga di masa depan. Pembangunan infrastruktur boleh dikebut, tapi lingkungan tidak boleh berlutut.
Mari jadikan Nduga bukan hanya dikenal karena konflik bersenjatanya, tetapi dikenal karena ketangguhan masyarakatnya dalam menjaga hutan perawan terakhir di Papua. Damai di hati, damai di bumi Nduga. (*Editorial)
Catatan:
Artikel ini adalah editorial dan himbauan. Penting bagi pembaca untuk memastikan keabsahan dan akurasi setiap data, khususnya pada tautan yang ada. Jika ada pertanyaan, silahkan kunjungi https://dlhnduga.org/struktur/ atau langsung datang ke Kantor DLH Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan.






