PEKANBARU – Pembangunan SMP tahun ini di Kecamatan Kulim dinilai sangat dibutuhkan masyarakat di sana. Saat ini lelang SMP diperbatasan Kota Pekanbaru tersebut, masih dalam proses. Disdik Pekanbaru meminta lelang proyek senilai Rp6,5 miliar itu dapat selesai secepatnya.
“Untuk SMP di Kulim kita sudah turun kemarin. Kan masih dalam proses, kita minta secepatnya,” ucap Kepala Disdik Pekanbaru, Abdul Jamal saat dikonfirmasi mengenai perkembangan lelang pembangunan SMP yang berbatasan dengan Kabupaten Pelalawan tersebut, Jumat (16/2/24).
Dirinya mengaku, sudah turun kemarin ke lokasi. Dan memang daerah itu sangat membutuhkan. Tepatnya antara Jalan Seroja sampai Simpang Beringan perbatasan Kabupaten Pelalawan, sekitar 300 meter masuk ke dalam.
“Tepatnya, kalau orang lebih kenal di sana sate kambing Pak Sugeng, pas di belakang itu. Kan ada orang ambil pasir di sana,” ujarnya.
Jamal mengatakan, pembangunan SMP yang direncanakan 8 sampai 10 lokal tersebut, dibangun di atas tanah Pemko Pekanbaru. Dan di situ sudah ada plang. Masyarakat di sana ucap dia juga sudah tahu.
“Karenanya, kita mungkin paling lambat puasa ini atau habis hari raya sudah kita mulai, karena kan ada proses,” ujar dia.
Untuk sementara ujar Jamal, tahun ajaran ini SMPN 52 yang akan dibangun tersebut, akan menerima siswa baru. Nantinya untuk sementara Disdik akan menumpangkan siswa baru tersebut di SMPN 26 Jalan Seroja.
Ketika ditanya lelang e-katalog terhadap proyek senilai Rp6,5 miliar sebagaimana dikatakan sebelumnya, Jamal mengaku tidak tahu sistemnya.
“Jadi itu LPPSE bagian kita. Bahkan semalam kita mendapat kunjungan dari Dinas Pendidikan Tanjungpinang sama ULP Tanjungpinang. Karena sistem sekarang ada sistem baru yang mewajibkan kita juga ya, e-katalog,” pungkasnya.
Seperti diketahui, LSM Masyarakat Pendukung Pembangunan Riau (Mampir), Harianto mengkritik Disdik Pekanbaru atas lelang pembangunan SMP tahun ini dengan sistem e-katalog. Pasalnya sistem tersebut dinilai syarat dengan nuansa KKN.
“E-katalog itu artinya, konstruksi high tech. Artinya, memerlukan teknologi tinggi. Pertanyaannya sekarang, apakah pembangunan SMP itu memerlukan tekhnologi tinggi,” ucapnya.
Harianto pun menyarankan, jika pembangunan SMP itu tidak memerlukan spesialisasi atau keahlian khusus, artinya biasa-biasa saja, ia menyarankan agar dilelang secara umum saja.
“Kalau pelelangannya tidak dilakukan secara umum, itu bisa menimbulkan kecemburuan bagi kontraktor lain. Karena e-katalog itu sama dengan lelang terbatas yang hanya dikenal oleh instasi tertentu,” ucapnya. (Fin)












