Potret RiauPekanbaru

Pemerintah dan Stakholder Diharapkan Inventarisir Titik Banjir

76
×

Pemerintah dan Stakholder Diharapkan Inventarisir Titik Banjir

Sebarkan artikel ini
Zulfi Mursal. (Foto: Fin)

PEKANBARU – Untuk menyelesaikan persoalan banjir, pemerintah bersama stackholder diminta mempersiapkan data-data titik banjir. Hal ini guna dibuatkan planning ketika musim banjir berakhir dalam mengatasi banjir di tahun-tahun yang akan datang.

Hal ini disampaikan Wakil ketua Komisi II DPRD Riau Zulfi Mursal saat ditemui, Senin (8/1/23).

“Kita berharap seluruh jajaran pemerintah stakeholder yang berkepentingan di bidang itu, baik itu Dinas Pertanian, Perkebunan, Lingkungan Hidup dan Kehutanan kemudian BPBD, termasuk Dinas PU-nya, baik itu tingkat kabupaten maupun provinsi, saat ini mesti membuat data-data titik-titik banjir,” ujarnya.

Politisi asal fraksi PAN itu menjelaskan, gunanya supaya nanti bisa dibuatkan planning ketika musim banjir berakhir, maka kita minta dipersiapkan planning untuk mengatasi di tahun-tahun yang akan datang.

“Nah saat ini kan kita tidak punya planning khusus yang efektif yang memang langsung berkolaborasi di beberapa dinas yang terkait itu untuk menyelesaikan persoalan banjir,” ucapnya.

Menurut Zulfi, persoalan banjir saat ini bukan hanya persoalan hutan yang saat ini sudah menjadi kebun. Kemudian, masalah normalisasi parit parit yang juga sudah dangkal dan sebagainya. Kemudian aliran-aliran yang tak terkoneksi dengan baik.

Oleh karena itu, wakil ketua Komisi II DPRD Riau itu berharap, di musim banjir ini dipersiapkan seluruhnya apa persoalannya.

Di mana titik-titik titik yang membuat bencana banjir ini. Nah itu dari sisi teknis. Oleh karenanya hari ini, baik tingkat Kabupaten/kota yang terdampak banjir maupun tingkat Provinsi supaya menginventarisasi titik-titik itu supaya nanti begitu sudah kering, tak banjir lagi bisa mempersiapkan planning.

Planning itu kata Zulfi, kalau masalah masalah sungai, kanal dan sebagainya itu, diserahkan kepada PU-nya.

“Nah kalau persoalan nanti perkebunannya, dinas perkebunannya, masalah hutannya dinas Kehutanannya. Kemudian penanganan banjir, teknisnya BPBD. Ini disinergikan kolaborasi bersama supaya nanti tersinkron semua. Apa planning di musim panas itu dilakukan,” ucapnya.

Dikatakan, kita negeri melayu ini baru dia sibuk ketika barang sudah terjadi. Ia berharap jangan seperti itu lagi. Sebelum terjadi kita persiapkan seluruh jaringan-jaringan untuk mengalirkan air itu supaya tak lagi terjadi banjir.

Yang kedua kata Zulfi, persoalan keagamaan. Menurutnya, air hujan itu rahmat. Tetapi ketika kita tidak bersyukur maka rahmat itu menjadi bencana. Tetapi ketika kita sudah banyak merusak alam, tidak lagi mengelola alam ini dengan baik, maka hujan itu akan menjadi bencana.

“Nah, inilah sekarang yang terjadi. Maka perlu disadari juga, kembalikan alam itu kepada posisinya. Kita jaga dengan baik supaya jangan membuat kerusakan-kerusakan di permukaan bumi. Begitu permukaan bumi rusak yang merusak itu bukan orang lain tapi tangan tangan manusia juga,” tuturnya.

Lebih lanjut dikatakan, ketika tangan-tangan manusia merusak alam, bukan rahmat yang dapat tapi bencana.

“Berapa ribu hektar terpapar kebun kita, kebun-kebun sawit yang ada di Provinsi Riau ini. Kalau di data kan ribuan hektar. Nah, kemudian terkendala transportasi, pengiriman barang barang dan segala macam yang saat ini tak bisa dilakukan tepat waktu,” ujarnya.

Menyikapi bencana alam tersebut, Zulfi menyarankan agar diantisipasi oleh pemerintah dan stakeholder serta masyarakat juga mesti disadarkan.

“Ketika nanti musim kering jangan sembarangan membuang sampah,” pungkasnya. (fin)