Potret Riau

DPRD Riau Sebut Banjir Fenomena Alam

62
×

DPRD Riau Sebut Banjir Fenomena Alam

Sebarkan artikel ini
Salah satu rumah warga yang terkena banjir di Jalan Riau ujung akibat fenomena alam. (Foto: Fin)

PEKANBARU – Banjir yang melanda 9 kabupaten/kota di Riau sulit dibendung. Kondisi tersebut terjadi karena merupakan fenomena alam dan akumulasi terhadap “kejahatan” lingkungan pada masa lalu.

Hal itu diungkapkan dua anggota DPRD Riau Parisman Ikhwan dan anggota DPRD Riau Mardianto Manan saat dikonfirmasi terpisah, Kamis (11/1/24).

Parisman Ikhwan yang juga ketua Komisi IV DPRD Riau mengungkapkan, banjir yang melanda Riau merupakan fenomena alam.

“Sungai-sungai besar di Provinsi Riau seperti Sungai Rokan, Sungai Siak, Sungai Indragiri, dan Sungai Kampar, kewenangan pusat Balai Wilayah,” ujarnya.

Menurut politisi asal Fraksi Golkar DPRD Riau itu, banjir yang terjadi di Riau berasal dari aliran sungai besar yang menjadi kewenangan pusat. Contohnya di Pekanbaru, itu adalah limpahan dari Sungai Siak.

Menyikapi fenomena alam tersebut, Parisman Ikhwan mengimbau pemerintah untuk memberikan bantuan bagi masyarakat yang terkena dampak banjir.

“Untuk menyelesaikan banjir ini, saya rasa pemerintah harus bekerja sama dengan pemerintah pusat. Karena yang terkena banjir itu adalah berkaitan dengan kewenangan pusat semua termasuk yang di Pelalawan,” ucap dia.

Hal senada juga diungkapkan anggota komisi I DPRD Riau, Mardianto Manan. Menurutnya, selain fenomena alam, banjir juga merupakan akumulasi dari “kejahatan” lingkungan pada masa lalu.

“Kebetulan kita tadi pembahasan tentang Raperda tentang pandangan hidup. Makanya ini juga perlu diperhatikan dengan serius. Karena banjir yang begitu parah sekarang itu, dampak akumulasi dari “kejahatan” lingkungan pada masa lalu yang ceroboh pengelolaannya. Sehingga kawasan hutan yang sudah gundul menjadi erosi ketika hujan terjadi,” ungkapnya.

Akibatnya kata politisi asal Fraksi PAN DPRD Riau itu, air itu mengalir begitu cepat, tidak tersaring, tidak terpantau lagi dengan kondisi topografi dan kontur lahan yang ada. Sehingga hujan 2-3 jam saja, akhirnya meluap jauh ke atas permukaan daratan seperti terjadi sekarang. (fin)