Pekanbaru

Pendeta Suryani: Wartawan Harus Berwawasan Kebangsaan

124
×

Pendeta Suryani: Wartawan Harus Berwawasan Kebangsaan

Sebarkan artikel ini
Pendeta Suryani Halawa S.Th saat menyampaikan khotbahnya pada Natal wartawan Oikumene se-Provinsi Riau, Selasa (26/12/23) malam. (Foto: Fin)

PEKANBARU – Sebagai kontrol sosial dalam masyarakat, wartawan diminta harus berwawasan kebangsaan, meningkatkan profesionalisme dan memegang kode etik jurnalisme. Jika melenceng, maka di situ negatif thinking muncul di tengah-tengah masyarakat awam.

“Wartawan harus berwawasan kebangsaan yang kuat. Menjaga kualitas berita. Berita yang berbobot, berguna dan bermanfaat. Itulah yang menjadi kemuliaan Tuhan,” ucap Pendeta BNKP Suryani Halawa saat menyampaikan khotbahnya pada perayaan Natal wartawan Oikumene dan insan pers se-Provinsi Riau di Premiere Hotel Pekanbaru, Selasa (26/12/23) malam.

Sebagai masyarakat awam ucap Suryani, jika berita yang dibuat wartawan melenceng, di situlah negatif thinking itu muncul terhadap wartawan. Oleh karena itu, ia menyarankan wartawan supaya meningkatkan profesionalisme, pegang kode etik jurnalisme, jangan melenceng.

Suryani mengatakan, dari data Kementerian Kominfo RI tahun 2022, ada kurang lebih 9500 berita hoax yang terjadi dan 62% adalah ujaran kebencian.

“Yang ingin kami sampaikan di sini kepada bapak/ibu, dalam perayaan Natal ini karena saya katakan tadi ke depan ini ada banyak tugas yang harus anda emban nantinya. Ujaran kebencian, memecah belah persatuan kita. Untuk itu, wartawan Kristiani diharapkan menjadi pembawa kedamaian,” ujarnya.

Suryani melihat, ibadah perayaan Natal wartawan Oikumene dan insan pers se-Provinsi Riau ini, punya warna warni. Oleh karena itu, perbedaan itu jangan sampai membawa bencana bagi bangsa ini, terlebih pada Pemilu Februari 2024 mendatang.

“Di ruangan ini kita berbeda. Medianya berbeda platnya kita, berbeda merknya, apalagi berbeda bendera partai kita. Maka untuk itu bapak/ibu, jangan sampai nantinya perbedaan itu menjelang tahun 2024 ini menjadi penyebab bencana bangsa ini,” ujarnya.

Suryani mengatakan, perbedaan itu ada kuning, ungu, hitam, dan ada merah. Semua itu, jangan nanti yang satunya sudah naik, sudah duduk di kursi dewan, kita yang gontok-gontokan. Sehingga media kita juga tidak berkembang hanya karena persoalan, pungkasnya. (fin)