Pekanbaru

Mengurai Jejak Bisnis Dedi Handoko, Dunia Malam Hingga Parkir di Pekanbaru, Kabarnya Kebal Hukum Termasuk KPK (bagian pertama)

1125
×

Mengurai Jejak Bisnis Dedi Handoko, Dunia Malam Hingga Parkir di Pekanbaru, Kabarnya Kebal Hukum Termasuk KPK (bagian pertama)

Sebarkan artikel ini
Suasana penggeledahan di kediaman Dedi Handoko

Potret24.com, Pekanbaru – Jejak bisnis pengusaha Dedi Handoko di Kota Pekanbaru maupun di Provinsi Riau sangatlah panjang. Pengusaha yang aslinya bernama Alimin ini awalnya dikenal sebagai pengusaha hiburan malam. Orion Diskotek maupun Ozon Diskotek merupakan awal bisnisnya di Kota Pekanbaru.

Saat dikenal sebagai pengusaha hiburan malam di Kota Pekanbaru, Dedi Handoko juga diduga ikut bermain narkoba yang diperuntukkan bagi penikmat hiburan malam di Diskotek miliknya.

Sesaat setelah tangan kanannya Suparman dilantik sebagai Bupati Rohul sejak 22 April 2016 hingga dinonaktifkan pada tanggal 14 Juni 2016, Dedi Handoko diperkirakan mulai mengalihkan sebagian bisnisnya di perkebunan sawit. Tercatat ada ribuan hektar lahan milik Dedi Handoko yang diperkirakan berada di wilayah Rokan Hulu.

Jejak bisnis Dedi Handoko ternyata tidak hanya berhenti disana. Data yang dimiliki potret24.com, sejak Tahun 2016, Dedi Handoko mulai merambah usaha lainnya.

Salah satunya mulai mengambil sejumlah proyek besar di pemerintahan sejumlah daerah di Provinsi Riau. Bisnis di bidang kontraktor jasa dan barang digelutinya hingga sempat tergelincir di Tahun 2019. Tercatat KPK nyaris menangkapnya akibat kisruh proyek yang ditanganinya.

Seorang ASN di Pemkab Bengkalis menceritakan, Dedi Handoko diduga tersangkut masalah proyek amburadul di Kabupaten Bengkalis.

“Proyek jalan di Kabupaten Bengkalis. Diduga ada masalah dugaan penyimpangan,” katanya kepada potret24.com.

Terkait masalah proyek tersebut, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sempat menyegel ruangan kerja di rumah pengusaha bernama Dedi Handoko. Bahkan satu koper berisi dokumen terkait proyek jalan di Bengkalis dan beberapa daerah lainnya dibawa penyidik.

Penggeledahan di Jalan Tanjung Uban, Kecamatan Limapuluh, Pekanbaru itu berlangsung sejak pagi, terkait kegiatan pengumpulan barang bukti proyek jalan.

Ketika itu, tidak ada satupun komentar dari penyidik KPK saat keluar dari kediaman Dedi Handoko tersebut. Penyidik hanya berlalu, dikawal personel polisi bersenjata lengkap dan masuk ke mobil.

Pantauan wartawan, penyidik membawa satu koper diduga berisi dokumen terkait korupsi jalan di Bengkalis. Ada pula sejumlah kantong plastik berisi kertas diduga barang bukti. Kabarnya ada 15 item berkas proyek yang disita.

“Ada 15 item dokumen yang disita,” terang Syam, seorang pengacara Dedi Handoko.

Selain Bengkalis, 15 item itu juga terkait proyek infrastruktur di Kabupaten Rokan Hulu. Ada pula dengan kegiatan di Pemerintahan Provinsi Riau tahun anggaran 2019.

Usai penggeledahan Dedi Handoko dikabarkan sempat melarikan diri ke Singapura. Langsung terbang dari Kota Medan ke Singapura.

Namun bukan Dedi Handoko namanya kalau tidak bisa menyelesaikan masalah dengan KPK. Karena sempat setahun menghilang, Dedi Handoko kembali muncul ke permukaan seiring masalah hukumnya dengan KPK tiba-tiba juga ikut redup.

“Tidak tahu saya apa yang Dedi Handoko berikan kepada KPK sehingga masalah hukumnya tidak pernah lagi terdengar dan kemudian lenyap ditelan angin. Tak pernah jelas apakah Dedi Handoko pernah diperiksa KPK atau tidak. Bahkan statusnya pun tidak jelas, entah saksi entah tersangka,” kata Irwandi, seorang warga Kota Pekanbaru.

Namun data yang dimiliki potret24.com, Dedi Handoko sebenarnya sempat diperiksa KPK di Jakarta. Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri mengatakan bahwa pemeriksaan terhadap Dedi Handoko dilakukan di Gedung Merah Putih KPK di Jalan Kuningan
Dedy Handoko dimintai keterangan terkait suap proyek multiyears pembangunan Jalan Duri – Sei Pakning di Kabupaten Bengkalis.

“Nanti kami update lagi,” kata Ali Fikri.

Ketika dikonfirmaskan Dedi Handoko akhirnya angkat bicara. Pria yang akrab disapa DH itu mengungkapkan, bahwa pemeriksaan itu tidak terkait adanya kasus proyek multiyears pembangunan Jalan Duri-Sei Pakning, Kabupaten Bengkalis yang menjadikan Amril Mukminin menjadi tersangka.

”Tidak tahu, yang terpenting tidak ada kaitannya,” ungkap DH, Kamis silam.

DH mengatakan, pemeriksaan yang dilakukan penyidik KPK, terkait foto dirinya bersama Bupati Kabupaten Bengkalis Amril Mukminin. (sd)