Potret24.com, JAKARTA – Ketika ulama dipakaikan baju tahanan, sementara para penjahat dibiarkan berseragam. Ungkapan itu keluar dari mulut Ustadz Felix Siauw soal ditetapkannya Habib Rizieq Shihab sebagai tersangka kasus kerumunan di Petamburan beberapa waktu lalu.
Imam besar Front Pembela Islam (FPI) itu ditahan selama 20 hari ke depan. Penahanan Habib Rizieq tentunya mendapat pro dan kontra. Ia pun bicara soal penahanan Habib Rizieq.
Felix Siauw memberikan pendapatnya dalam sebuah tulisan panjang berjudul ‘Kezaliman & Pelakunya Pasti Musnah’.
“Keadilan itu adalah pilar tegaknya sebuah negara. Andai keadilan itu tak dirasakan dan tak diterapkan, maka bisa dipastikan negara itu tinggal menunggu kehancurannya. Lawan dari adil adalah dzalim, dan Allah menegaskan, bahwa kedzaliman dan pelakunya akan musnah. Meski kini kedzaliman itu dipertontonkan secara nyata dan terang-terangan,” tulis Felix Siauw dilansir dari detik.com
“Kita naif kalau kita mengira perjuangan dakwah itu tak ada halangannya. Bahkan Nabi, syuhada, shiddiqin, saalihin, sudah memberi contoh pada kita, jalan lurus itu pasti penuh luka dan duka,” tambahnya.
Ia juga menuliskan bagaimana berusaha melisankan perintah kebenaran dari Yang Maha Kuasa itu tak mudah. Tapi, dia percaya pada skenario Tuhan menentukan jalan dan nasib dari kezaliman dan kebenaran.
“Menumpahkan darah, menyiksa, memfitnah, merekayasa, menangkap dan memenjarakan. Itulah hasil rapat di Darun Nadwah, mereka pikir mereka bisa menang dengan kedzalima. Di Sirah Nabawiyah, itu adalah satu bab sebelum pertolongan Allah hijrah ke Madinah. Ketika kedzaliman sudah tak lagi malu-malu, lalu terburu-buru telanjang agar bisa nyata dilihat semua orang,” tulisnya.
Dia juga membicarakan ulama yang dipakaikan baju tahanan. Ungkapan itu merujuk kepada Habib Rizieq Shihab yang keluar dari ruang pemeriksaan dengan memakai baju tahanan berwarna oranye dan tangan diborgol.
“Ketika ulama dipakaikan baju tahanan, sementara para penjahat dibiarkan berseragam. Saat itulah keadilan langsung mendatangi Allah untuk meminta janji-Nya, untuk ditegakkan,” katanya.
Melihat kondisi saat ini, ia pun mengajak untuk tetap berdoa dan berzikir. Dia berharap akan ada keadilan dan kebenaran.
“Tiap-tiap orang hanya melaksanakan tugasnya. Dan tugas kita adalah menjaga tinta pena tetap basah, dan selalu berdzikir dan berdoa memohon agar darah kita tetaplah merah. Panggung peradaban sudah digelar, tirai pertunjukan sudah diangkat, jangan mundur dari kebenaran. Agar anak-anak kita esok masih punya contoh, tentang PARA LELAKI YANG TAK TERBELI,” tutupnya. (gr)












