Potret24.com, JAKARTA – Virus corona telah menginfeksi 668 ribuan orang di 202 negara. Sebanyak 31.019 meninggal dunia dan 142.785 orang dinyatakan sembuh.
Di Indonesia sendiri ada 1.285 kasus positif COVID-19, 114 meninggal dan 64 sembuh. Virus corona banyak menjangkiti pasien lansia dan orang dewasa dengan imunitas rendah atau memiliki penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, jantung dan gangguan pernapasan.
Dari ratusan ribu kasus positif, jumlah anak-anak yang terinfeksi virus corona jenis baru ini terbilang masih sangat sedikit. Studi di China yang dilakukan sejumlah ilmuwan menunjukkan dari 745 anak kecil di China yang menjalani tes corona, hanya 10 yang teridentifikasi positif.
Seperti dikutip dari Business Insider, tujuh di antaranya mengalami demam dan sisanya batuk-batuk, sakit tenggorokan serta nyeri. Tidak ditemukan anak positif COVID-19 yang mengalami gejala berat seperti sesak napas atau pneumonia.
New Scientist juga melaporkan hasil tak jauh berbeda. Dua ilmuwan, Zunyou Wu, MD, PhD dan Jennifer M. McGoogan, PhD, dari Chinese Center for Disease Control and Prevention, menulis hasil penelitian terhadap 44. 672 orang dan menemukan kurang dari 1 persen anak kecil yang positif virus corona. Tidak ditemukan juga anak kecil yang meninggal dalam 1.023 kematian.
Penyebab sedikitnya kasus anak kecil yang positif virus corona masih jadi misteri di kalangan ilmuwan. Sebab pada jenis flu biasa, justru anak-anak dan orang tua yang rentan mengalami gejala berat. Hal ini pun semakin membuktikan bahwa Sars-Cov-2 penyebab penyakit COVID-19 merupakan jenis virus corona yang benar-benar baru dan masih butuh banyak penelitian lebih lanjut untuk mengenali karakternya secara akurat.
“Belum ada yang punya jawaban terbaik untuk hal ini,” kata Akiko Iwasaki dari Universitas Yale, seperti dikutip dari New Scientist.
Ada beberapa spekulasi yang menjelaskan kenapa kasus COVID-19 sangat minim dialami anak kecil. Salah satunya berhubungan dengan perbedaan respons imun tubuh antara anak kecil dan orang dewasa.
Chris van Tulleken dari University College London menjelaskan, sistem imun pada anak kecil masih terus berkembang, sehingga mereka terlindung dari respons daya tahan tubuh yang membahayakan, yang disebut cytokine storm. Saat terjadi wabah SARS atau flu burung (penyakit yang disebabkan virus corona jenis lain) beberapa tahun lalu, dua hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh anak kecil hanya memproduksi cytokine dalam jumlah relatif sedikit dan itu lah yang melindungi mereka dari kerusakan paru-paru parah. (gr)












