Potret Internasional

Lawatan Paus ke Emirat Arab, Sejarah Baru Toleransi dan Perdamaian

74
×

Lawatan Paus ke Emirat Arab, Sejarah Baru Toleransi dan Perdamaian

Sebarkan artikel ini

POTRET24.COM – Pemimpin Gereja Katolik Roma Sedunia, Paus Fransiskus, telah menjejakkan kakinya untuk pertama kali di Teluk Arab, tepatnya di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab, Minggu (3/2/2019) malam. Dalam kunjungannya selama 48 jam itu, Paus Fransiskus menggelar misa bersama sekitar 135.000 umat Katolik dan bertemu dengan beberapa ulama terkemuka.

Pada Senin (4/2) ini, Paus Fransiskus akan hadir dalam konferensi internasional para tokoh agama tentang persaudaraan kemanusiaan. Kunjungan pertama Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Roma di wilayah Arab Teluk itu akan mengirim pesan penting ke dunia mengenai perdamaian, toleransi, dan mempromosikan upaya diskusi antaragama.

Paus Fransiskus, Minggu (3/2), mengatakan, lawatannya itu merupakan peluang untuk “menulis halaman sejarah baru tentang hubungan antara agama”. Uni Emirat Arab (UEA) menyebut 2019 sebagai “Tahun Toleransi” dan ingin mengedepankan sejarahnya sebagai “tempat lahirnya keberagaman”.

Dalam sebuah pesan video pada Kamis lalu, Paus berkata, “Saya senang atas kesempatan ini yang Tuhan berikan kepada saya untuk menulis, di tanah Anda, halaman baru dalam sejarah hubungan antaragama.

“Iman kepada Tuhan menyatukan dan tidak memecah belah, itu membuat kita semakin dekat meskipun ada perbedaan, itu menjauhkan kita dari permusuhan dan kebencian.”

Kunjungan ini menjadi sejarah baru bagi UEA tentang persaudaraan dan toleransi antara agama dan budaya

Menteri Luar Negeri UEA, Anwar Gargash, menyampaikan pesan sambutan melalui akun Twitternya. “Kunjungan ini membawa nilai kemanusiaan yang besar. Kunjungan ini menjadi sejarah baru bagi UEA tentang persaudaraan dan toleransi antara agama dan budaya,” tulisnya.

Bagi Gargash, kunjungan Paus itu juga menegaskan posisi UEA sebagai negara yang mengedepankan kehidupan manusia yang toleran dan damai. Ia menunjukkan perbedaan “antara mereka yang melakukan aksi terorisme dan mereka yang menjadi tuan rumah di mana pimpinan agama Katolik dan Islam dapat berdialog dengan damai”.

Sebelum berangkat ke UEA, Minggu, Paus Fransiskus sempat menyinggung tentang krisis kemanusiaan di Yaman, di mana UEA memiliki peran militer yang besar. ”Rakyat sudah letih dengan konflik panjang, dan banyak anak kelaparan, tetapi bantuan kemanusiaan tak bisa diperoleh,” ucapnya. (Lis)