Potret Politik

Bawaslu Pekanbaru Buka Pendaftaran Pemantau Pemilu, KPU Buka ‘Relasi’

64
×

Bawaslu Pekanbaru Buka Pendaftaran Pemantau Pemilu, KPU Buka ‘Relasi’

Sebarkan artikel ini

POTRET24.COM – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Pekanbaru membuka kesempatan bagi organisasi kemasyarakatan, kepemudaan, yayasan dan perkumpulan untuk menjadi  Pemantau Pemilu 2019. Pendaftaran dibuka Bawaslu pada 21 Januari hingga 10 April 2019.

Ketua Bawaslu Kota Pekanbaru, Indra Khalid Nasution mengatakan, pola kerja Pemantau Pemilu adalah mengawasi jalannya proses Pemilu.

Jika ada indikasi kecurangan yang ditemukan selama Pemilu berlangsung, Pemantau Pemilu bisa langsung melaporkannya ke Bawaslu.

“Syarat utama menjadi Pemantau Pemilu, ormas atau kepemudaannya harus independen, kemudian harus menyerahkan berkas administrasi terkait ormas ataupun lembaga tersebut ke Bawaslu,” ujar Indra Khalid, Sabtu (19/1/2019).

Sedangkan wilayah kerja Pemantau Pemilu tersebut di semua TPS yang ada di Pekanbaru. Jika Pemantau Pemilu ingin memantau di dua daerah dalam satu provinsi, maka pendaftarannya dilakukan di Bawaslu Provinsi Riau.

“Memang dalam kinerjanya tak ada honor yang kita siapkan. Ini murni untuk menciptakan Pemilu yang jujur dan adil,” ujar Indra.

Tidak hanya Bawaslu, Komisi Kota Pekanbaru juga merekrut pihak di luar KPU untuk mensukseskan program kerja lembaga penyelenggara Pemilu tersebut.

Ketua KPU Kota Pekanbaru, Yelly Nofiza mengatakan, untuk mensukseskan Pemilu 2019, KPU membuka pendaftaran untuk Relawan Demokrasi (Relasi). Relasi tersebut memerlukan sebanyak 55 orang yang akan dibagi ke 11 basis Relasi.

“Tujuan perekrutan ini untuk meningkatkan partisipasi pemilih di 2019,” ujar Yelly Nofiza.

Yelly mengatakan, pola kerja Relasi adalah menyosialisasikan pentingnya menyalurkan hak pilihnya kepada masing-masing Basisnya.

Mulai dari Basis Pemilih Pemula hingga Basis Disabilitas. “Setiap relawan merupakan keterwakilan dari basisnya masing-masing. Misal, Basis Pemilih Pemula, para relawannya merupakan kalangan milenial yang juga merupakan pemilih pemula. Dengan demikian, sosialisasi yang dilakukan mudah untuk diterima oleh kalangan pemilih pemula,” ujarnya. (Lis)