free website hit counter
Potret Bisnis 

Potensi Resesi Ekonomi Meningkat Akibat Perang Dagang

Potret24.com, Jakarta- Goldman Sachs  Groups Inc menyatakan potensi terjadinya resesi ekonomi meningkat menyusul eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Sebelumnya, resesi ekonomi merupakan kondisi di mana pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut.

“Secara keseluruhan, kami telah meningkatkan perkiraan kami tentang dampak peningkatan perang dagang,” ujar perusahaan jasa keuangan asal AS itu dalam catatan kepada nasabahnya, dikutip dari Antara, Senin (12/8/2019).

Selama setahun terakhir, kedua perekonomian terbesar dunia itu berselisih dagang seputar masalah tarif, teknologi, subsidi, kekayaan intelektual, hingga keamanan siber.

Pada awal Agustus lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bakal mengenakan tarif tambahan 10 persen pada produk impor China senilai US$300 miliar mulai 1 September 2019. Goldman Sachs meyakini pengenaan tarif tersebut akan benar-benar direalisasikan.

Sebagai balasannya, China memutuskan untuk menghentikan pembelian produk-produk pertanian asal Negeri Paman Sam.

AS juga menyebut China sebagai manipulator mata uang karena nilai yuan yang kian melemah. Namun, China membantah telah memanipulasi mata uangnya demi meningkatkan daya saing produknya.

Melihat perkembangan tersebut, Goldman Sachs memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal IV 2019 sebesar 20 basis poin menjadi 1,8 persen.

Eskalasi perang dagang menyebabkan gangguan rantai pasok yang mengerek biaya input. Buntutnya, perusahaan-perusahaan AS diperkirakan mengurangi aktivitas domestik.

Selain itu, ketidakpastian kebijakan akibat perang dagang juga memicu perusahaan untuk memangkas belanja modalnya.

Selain Goldman Sachs, sebelumnya, lembaga internasional Moody’s Analytics juga memperkirakan peluang terjadinya resesi ekonomi global meningkat untuk setahun hingga 1,5 tahun ke depan.

“Eskalasi perang dagang telah melampaui ekspektasi dan taruhannya tinggi untuk perekonomian global. Peluang terjadinya resesi global untuk 12 hingga 18 bulan ke depan meningkat dari 40 persen hingga 50 persen,” ujar Kepala Ekonom Moody’s Analytics untuk Asia Pasifik Steve Cochrane dalam risetnya yang berjudul ‘Living on the Tail Risk’. (Lis)

Related posts