free website hit counter
Potret Wisata 

Masjid Agung An-Nur Pekanbaru, Taj Mahalnya Indonesia

Potret24.com, Pekanbaru – Masjid Raya Agung An-Nur salah satu icon wisata religi masyarakat Riau. Masjid yang sangat megah di Jalan Hang tuah, Kelurahan Sumahilang, Pekanbaru ini bahkan dianggap Tak Mahalnya Indonesia

Uniknya, bangunan masjid ini sangat mirip dengan Taj Mahal di India yang masuk dalam daftar 10 keajaiban dunia.

Selama bulan Ramadhan, Masjid Agung An-Nur banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah. Pengunjung berwisata sambil beribadah.

Masjid yang dibangun dua tingkat ini, terdapat beberapa fasilitas. Tingkat atas khusus untuk shalat. Sedangkan ditingkat bawah ada tempat mengaji, tempat berkumpul pengunjung, sekretariat masjid, ruang remaja masjid, dan kelas tempat pendidikan Islam.

Masjid ini memiliki pekarangan yang luas. Luas keseluruhannya sekitar 12,6 hektar.

Di sekeliling masjid dibuat taman hijau, yang menyejukkan pandangan. Seperti bagian depan terdapat tanaman kurma. Ada pula dua batang kurma yang sedang berbuah lebat. Tapi tak boleh dipetik oleh pengunjung.

Sementara untuk di bagian dalam masjid, memiliki ukiran-ukiran khas Melayu yang indah. Selain itu, dinding dalamnya juga dihiasi kaligrafi.

Mirip Taj Mahal

Bila dilirik dari depan, Masjid Agung An-Nur memang tak ubahnya seperti Taj Mahal. Ditambah lagi dengan adanya kolam besar memanjang. 

Arsitektur Masjid Agung An-Nur Pekanbaru ini terlihat seperti perpaduan Melayu, Arab, India dan Turki. Dilihat sisi bangunannya, terdapat satu kubah besar di tengah dan empat kubah kecil berwarna hijau, serta empat menara.

Jadi, buat para traveler tak perlu lagi jauh-jauh datang ke India, karena di Masjid Agung An-Nur ini sudah serasa di Taj Mahal.

Lalu, seperti sejarah Masjid Agung An-Nur?

Wakil Sekretaris Badan Kesejahteraan Masjid Agung An-Nur Sukmadi Mukmin mengatakan, Masjid Agung Annur Pekanbaru dibangun pada tahun 1962 dan selesai tahun 1968. Arsiteknya bernama Ir Roseno.

“Sejarah pembangunan Masjid Agung An-Nur ini erat kaitannya dengan pembangunan pembangunan Kota Pekanbaru sebagai Ibukota Provinsi Riau,” ujar Sukmadi saat dilansir Kompas.com, Senin (20/5/2019).

Dulunya, cerita dia, Ibukota Provinsi Riau terletak di Tanjung Pinang. Sekitar tahun 1960-an pindah ke Pekanbaru.

Dalam rangka pembangunan Kota Pekanbaru, pada saat itu Gubernur Riau yang kedua, Kaharuddin Nasution, mulai membangun infrastruktur.

“Pada saat itu Bapak Kaharuddin Nasution membangun pusat fasilitas kegiatan masyarakat. Jadi ada perkantoran, perumahan, pendidikan dan rumah ibadah. Nah, waktu itu Masjid Agung Annur ini dibangun untuk fasilitas beribadah,” sebut pria yang berusia 66 tahun ini.

Saat ditanya mengenai bangunan Masjid Agung Annur mirip dengan Taj Mahal, Sukmadi juga mengakui demikian.

“Ya, kalau dilihat dari jauh seolah-olah seperti Taj Mahal India. Mungkin karena kubahnya. Tapi kalau kubah Taj Mahal itu kan seperti bawang terbalik. Tapi kalau kubah masjid kita seperti gasing terbalik,” ungkapnya.

Melambangkan Melayu

Sukmadi mengatakan, bangunan Masjid Agung An-Nur sudah banyak berubah dari sejak awal dibangun. 

“Dulu bangunan awalnya tidak seperti ini. Sudah banyak yang renovasi. Jadi dibangun 1962 dan diresmikan pada tahun 1968 oleh Gubernur Riau ketiga, Arifin Achmad,” kata Sukmadi.

Kemudian 40 tahun setelah itu, Masjid Agung An-Nur direnovasi total di zaman Gubernur Riau ke tujuh, Saleh Djasit pada tahun 2000.

Setelah direnovasi total, kemudian diresmikan oleh Rusli Zainal, Gubernur Riau kedelapan pada tahun 2006.

“Peresmiannya bertepatan dengan ulang tahun emas Provinsi Riau ke-50, yang dihadiri Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,” kata Sukmadi.

Menurut dia, Masjid Agung Annur dibangun di lokasi strategis. Selain terletak di jantung Kota Pekanbaru, juga dekat dengan Pasar Sukaramai, perkantoran, rumah sakit dan sekolah-sekolah.

“Dulu Kantor Gubernur Riau itu di Jalan Gajah Mada. Sekarang menjadi Kantor KPU (Komisi Pemilihan Umum) dan Bappeda,” imbuh Sukmadi.

Mengenai arsitekturnya, menurut Sukmadi, Masjid Agung Annur menggambarkan budaya Melayu dan Arab. Hal itu terkesan dari bentuk bangunannya.

“Di mana letak Kemelayuannya, misalnya dilihat dari segi pewarnaan. Warna Melayu itu dominannya kan hijau, kuning dan merah,” tuturnya.

Kemudian dari segi bentuk bangunan, lanjut Sukmadi, Masjid Agung Annur mempunyai Beranda tempat bertemunya masyarakat.

“Masjid kita kan jarang punya Beranda. Jadi masjid ini ada Berandanya tempat bertemu masyarakat. Seperti rumah Melayu itu kan di atas panggung. Tempat ibadah kita kan di atas. Jadi di Beranda itu kita bercengkrama dulu baru naik ke atas,” kata Sukmadi.

“Kubah dibuat seperti gasing terbalik. Gasing ini adalah permainan anak Melayu. Dan segi arabnya, diambil dari nuansa-nuansa Masjid Nabawi dan Masjid Haram.” 

Lima kubah dan empat menara 

Sukmadi mengatakan, Masjid Agung Annur memiliki lima kubah dan empat menara, yang masing-masing punya arti.

Lalu, kata dia, ada empat bangunan menara yang menggambarkan empat sahabat Nabi Muhammad SAW, yakni Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

“Empat menara masjid menggambarkan empat sahabat Rasulullah, yang menggambarkan bahwa bagaimana perjuangan Rasulullah mengembangkan Islam melalui empat sahabatnya,” ucap Sukmadi.

Sementara itu, Sukmadi mengatakan, pengunjung Masjid Agung An-Nur meningkat selama bulan suci Ramadhan. 

Selain itu, banyak kegiatan yang diadakan, seperti pengajian-pengajian, tausiah menjelang salat lima waktu dan sebagainya.

“Pengunjung meningkat sekali dibandingkan hari-hari sebelumnya. Selama Ramadhan kita juga banyak kegiatan, ada pengajian-pengajian kita mulai dari subuh. Kemudian sebelum shalat zuhur, shalat maghrib ada tausiah dan menjelang shalat tarawih juga tausiah,” tutup Sukmadi. (Lis)

Related posts