Bangkitkan Kejayaan Perikanan, Pemkab Rohil Berdayakan Nelayan dan Budidaya Perikanan

Advertorial Rohil

Potret24.com, Bagansiapiapi – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rokan Hilir bertekad membangkitkan kejayaan Rohil sebagai penghasil perikanan terbesar di dunia. Salah satu strateginya adalah memberdayakan nelayan lewat program-program tepat sasaran.

Keinganan besar itu bukanlah tanpa sebab. Sejarah telah mencatat bahwa Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) pernah menjadi eksportir ikan terbesar kedua didunia setelah Kota Bergen di Norwegia.

Bagansiapiapi yang saat itu masih berada di wilayah Kabupaten Bengkalis menjadi pusat pendaratan ikan terbesar. Ada ratusan kapal kapal trawl saat itu yang mendaratkan ikan di Bagansiapiapi. Berton-ton ikan, mulai dari ikan basah segar, ikan atau udang kering, ikan asin atau terasi, diekspor dari kota ini ke berbagai tempat. Dalam satu tahun, hasil tangkapan ikannya bisa mencapai 150.000 ton. Ekspor hasil laut berkembang menjadi salah satu pilar ekonomi rakyat.

Akan tetapi hal yang sangat disayangkan karena saat ini Bagansiapiapi tinggallah sejarah, namanya memudar seiring dengan berkurangnya sumberdaya perikanan yang terus merosot. Hal ini terjadi karena eksplorasi yang dilakukan secara terus menerus dengan menggunakan kapal dengan alat tangkap pukat harimau yang membuat semua faktor penunjang yang memenuhi kebutuhan ikan rusak, bahkan dinyatakan susah untuk kembali seperti semula dan akan memakan waktu yang lama.

Belajar dari kejadian yang terjadi di Bagansiapispi, pemerintah menetapkan pukat harimau sebagai alat tangkap yang di larang. Akan tetapi dalam prakteknya saat ini masih banyak yang menggunakan alat tangkap yang dimaksud dalam larangan tersebut tetapi namanya di ubah oleh sebagai nelayan dan memodifikasinya tapi prinsip kerja dari alat tersebut masih sama.

Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir, saat ini terus berupaya untuk menggembalikan predikat yang dahulunya pernah meraih sebagai daerah penghasil ikan terbesar di dunia.

“Memang dulunya Bagansiapiapi penghasil ikan terbesar kedua didunia dan kami ingin predikat itu bisa diraih kembali. Upaya-upaya yang kami lakukan saat ini salah satunya memberikan bantuan kepada para nelayan setiap tahunnya,” kata Kepala Dinas Perikanan Rohil, M Amin.

Dari data Dinas Perikanan Rohil, hasil tangkapan nelayan pada tahun 2013 lalu hanya sebanyak 47.511,81 ton dengan rincian 46.781 ton atau sekitar 98,46 persen merupakan hasil perikanan laut dan perairan umum. Sedangkan hasil tangkap nelayan budidaya hanya 730,81 ton atau 1,54 persen. “Jika hasil tangkap perikanan nelayan dibandingkan dengan tahun sebelumnya dengan total produksi ikan 57.850 ton maka terjadi penurunan pada tahun 2013 lalu sebesar 17,87 persen,” katanya.

Untuk hasil tangkap nelayan pada tahun 2014 tercatat produksi ikan sebanyak 33.847,46 ton, dimana 49.141 ton atau 98,00 persen merupakan hasil tangkap perikanan laut dan perikanan umum. Sementara untuk hasil tangkap ikan budidaya sebesar 1.089,76 ton atau 2,00 persen. Hasil tangkap nelayan ini juga terjadi penurunan dari tahun 2013 lalu sebesar 16,79 persen.

Dengan kondisi yang terjadi dua tahun terakhir itu sambung dia, tentunya sangat berimbas bagi perekonomian para nelayan meskipun laut Rohil masih banyak menyimpan potensi perikanan yang siap untuk dikembangkan. Meski demikian untuk meraih kejayaan tersebut dalam beberapa tahun terakhir pemerintah daerah telah membuat program dengan cara melakukan pembinaan dan memberikan berbagai bantuan alat tangkap agar para nelayan bisa hidup sejahtera.

“Upaya ini kami lakukan untuk memperkuat para nelayan dari yang tidak bersemangat menjadi lebih semangat. Pemberdayaan yang dilakukan itu juga sesuai dengan peraturan pemerintah nomor 50 tahun 2015 tentang pemberdayaan nelayan dan budidaya ikan,” katanya lagi.

Implementasinya, Diskan Rohil menyalurkan bantuan Armada Boat berkapasitas 1 Gross Tonnage (GT) dan 3 GT kepada nelayan pesisir Rohil. Bantuan kapal untuk nelayan itu bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) 2016. Bantuan Armada berupa boat yang dilengkapi alat pendeteksi ikan (Fish Finder) ini diberikan agar nelayan dalam melaut bisa berlayar lebih jauh ketengah.

Untuk Nelayan pesisir seperti nelayan Bagansiapiapi, Panipahan, dan Sinaboi tahun 2016 lalu selain diberikan bantuan alat tangkap perikanan juga diberikan bantuan Armada Boat sebanyak 40 unit. 40 unit armada yang akan diberikan kepada nelayan itu berkapasitas 3 GT sebanyak 20 unit dan 1 GT sebanyak 20 unit.

Proses seleksi penerima bantuan kapal terangnya dijalankan dengan ketentuan yang cukup ketat untuk mencegah terjadinya kesalahan penyaluran bantuan kepada pihak yang tak berhak.

Berdasarkan kuota yang telah ditetapkan dari DAK jumlah kapal bantuan mencapai 40 unit, yang terbagi sebanyak 20 unit untuk kapal dengan kapasitas 3 GT sebanyak 20 unit dan kapasitas 1 GT sebanyak 20 unit.
Sejauh ini diperkirakan kapal dengan bobot 3 GT lebih cocok diarahkan penyalurannya kepada nelayan di wilayah pesisir seperti Kecamatan Sinaboi, Bangko dan Pasir Limau Kapas karena melakukan penangkapan ikan ke perairan yang lebih dalam, menghadapi tantangan arus deras dan lain-lain.

Tekad Pemkab Rohil ingin mengembalikan kejayaan Rohil sebagai penghasil ikan terbesar di dunia bukanlah lipservice belaka. Berbagai kegiatan dan program diluncurkan demi mengembalikan marwah Rohil di mata dunia dari sektor perikanan.

Budidaya Perikanan

Tak hanya memberdayakan nelayan, langkah strategis lainnya adalah
pengembangan perikanan dengan program Perikanan budidaya, Perikanan Tangkap dah pemasaran hasil perikanan.

Agar semua itu terwujud, pihaknya sudah mengundang seluruh kecamatan yang memiliki potensi perikanan agar program yang diusulkan bisa terinsi saat musrenbang kabupaten nanti dilaksanakan.

“Beberapa waktu lalu kita sudah menyelenggarakan forum organisasi perangkat daerah, Dimana pesertanya berasal dari kecamatan dan kepenghuluan. Kegiatan itu dilaksanakan untuk mempertajam usulan pihak kecamatan khususnya dibilang perikanan, ” Kata Kadiskan Rohil, Muhammad Amin SPi, baru-baru ini di Bagansiapiapi.

Semakin digencarkan budidaya perikanan oleh Dinas Perikanan Rokan Hilir (Rohil) ditandai dengan adanya unit pengembangan atau balai benih ikan yang salah satunya terletak di daerah kepenghuluan Ujung Tanjung, Kecamatan Tanah Putih.

“Kita memang memprioritaskan pada program budidaya perikanan mengingat kegiatan tersebut terbukti sangat efektif untuk dilaksanakan, apalagi hasil perikanan yang cepat berkembang. Gilirannya kalangan nelayan yang mengiatkan program budidaya akan mengalami peningkatan kesejahteraan secara signifikan,” ucapnya.

Dari sektor perikanan tangkap sebutnya juga telah menunjukkan tren penurunan. Tidak mungkin bisa mengandalkan terus dari perikanan tangkap tersebut meskipun memang diakui bahwa Bagansiapiapi pernah dikenal sebagai penghasil ikan terbesar di dunia pada era 1980-an.

Beberapa jenis ikan yang prospek untuk dibudidaya sebutnya seperti Nila, Patin, Selais, dan lain-lain. Bukan hanya untuk kategori perikanan air tawar atau sungai, pihaknya juga telah mengembangkan potensi budidaya untuk perikanan air asin. “Untuk budidaya seperti ikan Senangin, diarahkan di Panipahan kecamatan Pasir Limau Kapas (palika),” ujarnya.

Salah satu yang tengah digiatkan saat ini adalah kegiatan Restocking ikan selais di sungai Rokan. Program Restocking terangnya merupakan kegiatan mengembangbiakan potensi ikan-Selais di sepanjang aliran sungai Rokan. Program itu ditingkatkan dengan harapan dapat membuat ikan yang terkenal lezat itu dapat mengalami pertumbuhan secara maksimal dan disisi lain jumlahnya bertambah.

Langkah lain pengembangan perikanan dengan program budidaya adalah keberadaan unit pengembangan atau balai benih ikan yang salah satunya terletak di daerah kepenghuluan Ujung Tanjung, Kecamatan Tanah Putih sedinginan.

M Amin mengatakan kalau pihaknya memang memprioritaskan pada program budidaya perikanan mengingat kegiatan tersebut terbukti sangat efektif untuk dilaksanakan, apalagi hasil perikanan yang cepat berkembang. Gilirannya kalangan nelayan yang menggiatkan program budidaya akan mengalami peningkatan kesejahteraan secara signifikan.

“Kalau saya memang ingin fokus pada kegiatan budidaya perikanan, selain didukung oleh ketersediaan benih disamping itu areal untuk budidaya juga ada,” kata Amin. (adv)